Inflasi Kalteng 2025 Terkendali, Bank Indonesia Ingatkan Risiko Mengintai Perekonomian Tahun 2026
- calendar_month Senin, 5 Jan 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Headline62, Palangka Raya – Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng), Yuliansah Andrias, menyampaikan bahwa inflasi Kalteng sepanjang tahun 2025 masih berada dalam sasaran nasional, meski terdapat sejumlah risiko yang perlu diantisipasi memasuki tahun 2026.
Berdasarkan data Bank Indonesia, inflasi Kalteng tercatat sebesar 2,56 persen (year on year), lebih rendah dibanding inflasi nasional yang berada di angka 2,72 persen.
Capaian tersebut masih berada dalam target inflasi nasional 2,5 persen ± 1 persen.
“Secara umum inflasi Kalimantan Tengah masih terkendali dan berada dalam sasaran nasional. Namun ke depan terdapat beberapa faktor risiko yang perlu terus kita waspadai,” ujar Yuliansah Andrias saat memaparkan Prospek dan Perkembangan Ekonomi Kalimantan Tengah di Palangka Raya, Selasa (31/12/2025).
Menurut Yuliansah, salah satu risiko utama inflasi ke depan berasal dari peningkatan intensitas curah hujan yang berpotensi mengganggu produksi dan distribusi komoditas pangan, khususnya sektor pertanian dan hortikultura.
“Curah hujan yang cukup tinggi dapat meningkatkan risiko gagal panen dan menghambat distribusi, sehingga berpotensi mendorong kenaikan harga pangan,” jelasnya.
Selain faktor cuaca, Bank Indonesia juga mencermati kenaikan harga BBM non subsidi seiring meningkatnya harga minyak global, yang dapat berdampak pada biaya distribusi dan harga barang di daerah.
Meski demikian, Yuliansah menegaskan bahwa upaya pengendalian inflasi di Kalimantan Tengah terus diperkuat melalui sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) dengan mengimplementasikan strategi 4K, yakni keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.
“Pengendalian inflasi tidak bisa dilakukan sendiri. Diperlukan koordinasi lintas daerah, penguatan kerja sama antarwilayah, serta operasi pasar seperti gerakan pangan murah dan sidak pasar untuk menjaga stabilitas harga,” ujarnya.
Dari sisi pertumbuhan ekonomi, Bank Indonesia mencatat ekonomi Kalimantan Tengah pada Triwulan III 2025 tumbuh 5,36 persen (yoy), lebih tinggi dibanding pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,04 persen. Untuk tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Kalimantan Tengah diproyeksikan berada pada kisaran 5,25 hingga 6,00 persen, didorong oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, dan konsumsi rumah tangga.
Sementara itu, dari sisi sistem pembayaran, kinerja transaksi digital di Kalimantan Tengah terus menunjukkan tren peningkatan. Hingga November 2025, volume transaksi digital tumbuh signifikan seiring meningkatnya preferensi masyarakat terhadap pembayaran non tunai.
“Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas sistem pembayaran serta memastikan ketersediaan uang Rupiah yang cukup dan layak edar di seluruh wilayah Kalimantan Tengah,” pungkas Yuliansah. (*)
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar