234 Kasus Gangguan Ginjal Tercatat di Kalteng Selama Tahun 2025, Ini Penjelasan Dinkes
- calendar_month Jumat, 27 Mar 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Headline62, Palangka Raya — Berdasarkan data yang diperoleh dari Dinas Kesehatan provinsi Kalimantan Tengah, sepanjang tahun 2025 tercatat sedikitnya 234 warga Kalteng yang terseber di 14 kabupaten/ kota yang mengalami gangguan fungsi ginjal. Sehingga kasus ini menjadi perhatian serius di sektor kesehatan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kalteng, dr. Riza Syahputra, mengungkapkan, kasus tersebut tersebar di sejumlah kabupaten dan kota di provinsi ini dengan jumlah yang bervariasi. Kabupaten Kotawaringin Barat menjadi daerah dengan kasus tertinggi yakni 96 orang, disusul Kapuas sebanyak 66 orang.
BERIKUT DATA FUNGSI GINJAL ABNORMAL DI KALTENG 2025
DAERAH JUMLAH
- Kotawaringin Barat 96 Orang
- Kapuas 66 Orang
- Kotawaringin Timur 16 Orang
- Lamandau 13 Orang
- Seruyan 12 Orang
- Katingan 10 Orang
- Palangka Raya 6 Orang
- Barito Timur 4 Orang
- Murung Raya 3 Orang
- Barito Utara 2 Orang
- Gunung Mas 2 Orang
- Pulang Pisau 2 Orang
- Barito Selatan 1 Orang
- Sukamara 1 Orang
TOTAL 234 Orang
Menurut Riza, gangguan ginjal tidak hanya berupa gagal ginjal yang sering dikenal masyarakat. Terdapat berbagai jenis penyakit ginjal lain yang juga dapat menyerang dan mengganggu fungsi organ vital tersebut.
“Beberapa jenis penyakit ginjal yang umum ditemukan antara lain gagal ginjal akut maupun kronis, batu ginjal, infeksi ginjal atau pielonefritis, penyakit ginjal polikistik, glomerulonefritis, hingga kanker ginjal,” kata dr Riza di Palangka Raya, Selasa (10/3/2026).
Ia menambahkan, kerusakan ginjal biasanya terjadi secara perlahan dan kerap tidak disadari oleh penderitanya pada tahap awal. Penyakit kronis seperti diabetes dan hipertensi menjadi faktor utama yang dapat memicu gangguan fungsi ginjal apabila tidak terkontrol dengan baik.
Selain itu, lanjutnya, gaya hidup yang kurang sehat juga berkontribusi besar terhadap meningkatnya risiko kerusakan ginjal.
Misalnya, kurangnya konsumsi air putih, pola makan tinggi garam, kebiasaan merokok, hingga penggunaan obat pereda nyeri dalam jangka panjang tanpa pengawasan medis.
“Penyebab ginjal bisa rusak antara lain karena penyakit kronis seperti diabetes dan tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol, serta gaya hidup tidak sehat. Faktor lain juga dapat berasal dari konsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang,” jelasnya.
Untuk mencegah gangguan ginjal, masyarakat diimbau mulai menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari.
“Salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan adalah dengan memenuhi kebutuhan cairan tubuh, yakni minum air putih sekitar 8 hingga 10 gelas per hari,” katanya.
Selain itu, masyarakat juga dianjurkan untuk mengonsumsi makanan bergizi seimbang dengan kadar garam rendah, menjaga berat badan tetap ideal, serta rutin berolahraga agar kondisi tubuh tetap prima.
Tidak kalah penting, masyarakat juga diminta untuk menghindari kebiasaan merokok, membatasi penggunaan obat-obatan tertentu seperti obat pereda nyeri tanpa resep dokter, serta secara rutin memeriksa tekanan darah dan kadar gula darah.
Riza menekankan bahwa upaya pencegahan sangat penting karena penyakit ginjal sering kali berkembang tanpa gejala pada tahap awal. Oleh karena itu, kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan ginjal perlu terus ditingkatkan.
“Dengan pola hidup sehat dan pemeriksaan kesehatan secara rutin, risiko gangguan ginjal dapat ditekan dan dideteksi lebih awal,” pungkasnya. (*)
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar