Prof Birute Mary Galdikas Berpulang, Dunia Kehilangan “Ibu Orangutan” dari Kalimantan
- calendar_month Rabu, 25 Mar 2026
- print Cetak

Prof Birute Mary Galdikas semasa hidup.
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Headline62, Palangka Raya — Dunia konservasi berduka. Ilmuwan ternama sekaligus pejuang pelestarian orangutan, Birute Mary Galdikas, meninggal dunia pada Selasa, (24/3/2026) di Los Angeles Amerika Serikat.
Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, tidak hanya bagi keluarga dan kolega, tetapi juga bagi Indonesia yang menjadi ladang pengabdiannya selama puluhan tahun.
Ucapan belasungkawa pun mengalir dari berbagai kalangan. Sosok yang dikenal sebagai “Ibu Orangutan” ini dinilai telah memberikan kontribusi luar biasa dalam menjaga kelestarian satwa langka di hutan Kalimantan.
Jejak Panjang di Tanjung Puting
Lahir di Wiesbaden, Jerman, pada 10 Mei 1946, Birute dikenal sebagai ilmuwan berdedikasi tinggi yang sejak tahun 1971 mengabdikan hidupnya untuk meneliti dan melestarikan orangutan di Taman Nasional Tanjung Puting.
Di kawasan inilah ia memulai penelitian panjang terhadap Orangutan Borneo yang saat itu terancam punah. Keputusan meninggalkan negara asal demi hutan Kalimantan menjadi bukti kecintaan dan komitmennya terhadap pelestarian alam.
Melalui organisasi yang didirikannya, Orangutan Foundation International, Birute aktif mengkampanyekan perlindungan orangutan dari ancaman perburuan liar dan deforestasi.
Dalam dunia ilmiah, Birute juga dikenal sebagai bagian dari trio peneliti primata legendaris bersama Jane Goodall dan Dian Fossey. Ketiganya dijuluki “Trimates”, murid dari paleoantropolog ternama Louis Leakey.
Nama “Leakey” bahkan diabadikan di salah satu lokasi penelitian orangutan terkenal, yakni Camp Leakey di Tanjung Puting—tempat yang hingga kini menjadi pusat penelitian dan wisata edukasi.
Ikatan Emosional dengan Orangutan
Lebih dari empat dekade hidup di tengah hutan Kalimantan membuat Birute memiliki ikatan emosional yang kuat dengan orangutan. Ia dikenal mampu berinteraksi dekat dengan satwa liar tersebut.
Bahkan, menurut sejumlah pemandu lokal, kehadiran Birute sering “mengundang” orangutan untuk mendekat, termasuk individu alfa yang biasanya agresif. Hal ini menjadi gambaran kuat hubungan unik antara manusia dan alam yang ia bangun selama hidupnya.
Mengakar di Tanah Dayak
Tak hanya berkarya di bidang ilmiah, Birute juga memiliki kedekatan dengan masyarakat lokal. Ia menikah dengan tokoh Dayak Tomun dan menetap di Desa Pasir Panjang, Pangkalan Bun.
Di wilayah tersebut, ia mendirikan pusat rehabilitasi orangutan untuk merawat anak-anak orangutan yang kehilangan induknya, sekaligus memperkuat upaya konservasi berbasis komunitas.
Deretan Penghargaan Dunia
Atas dedikasinya, Birute menerima berbagai penghargaan bergengsi dunia, di antaranya Tyler Prize for Environmental Achievement (1997), Global 500 Award dari PBB (1993), hingga Kalpataru dari Pemerintah Indonesia.
Pengabdiannya juga menjadikan Tanjung Puting sebagai salah satu destinasi penting bagi peneliti dan wisatawan dunia, sekaligus meningkatkan kesadaran global akan pentingnya pelestarian hutan hujan tropis.
Warisan yang Abadi
Semasa hidupnya, Birute tidak hanya meneliti, tetapi juga aktif melakukan rehabilitasi hutan. Ia tercatat telah menanam ratusan ribu pohon untuk menjaga habitat orangutan tetap lestari.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi dunia konservasi. Namun, dedikasi dan perjuangannya akan terus hidup melalui hutan yang ia jaga, orangutan yang ia selamatkan, serta generasi yang terinspirasi oleh jejak langkahnya.
Selamat jalan, Prof. Birute Mary Galdikas. Warisanmu akan terus hidup di rimba Kalimantan.(Net)
- Penulis: Redaksi


Saat ini belum ada komentar