Dukung Penanganan Karhutla Barito Timur, Adaro Serahkan Velbed untuk Perkuat Operasi Lapangan
- calendar_month Jumat, 11 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Headline62, Tamiang Layang – Dukungan dunia usaha terhadap upaya penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Barito Timur, terus mengalir, terbukti bPT Adaro Indonesia kembali menyalurkan bantuan untuk memperkuat operasional Posko Gabungan Karhutla, Jumat, (11/9/2026).
Bantuan kali ini, berupa velbed atau ranjang lipat portabel yang diperuntukkan bagi kebutuhan personel selama menjalankan tugas di Posko Gabungan Karhutla. dukungan tersebut diserahkan Government Relation PT Adaro Indonesia, Ketut Kisworo, dan diterima Sekretaris BPBD Damkar Barito Timur Yulli Hefirianti bersama Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon.
Dalam keterangannya Ketut mengatakan, bantuan velbed tersebut merupakan bagian dari dukungan berkelanjutan PT Adaro Indonesia terhadap penanganan karhutla di Barito Timur. Sebelumnya, perusahaan juga telah memberikan sejumlah bantuan untuk menunjang kebutuhan pemadaman dan keselamatan petugas di lapangan.
“Yang pertama kami meminjamkan mobil tangki air untuk penyediaan air pemadaman karhutla, kemudian ada bantuan air mineral dan susu, alat pengaman diri (APD) berupa masker, sepatu dan kaca mata, serta bantuan susulan berupa velbed (ranjang lipat portabel),” katanya.
Dukungan tersebut, kata dia, diberikan sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi darurat yang tengah dihadapi Barito Timur akibat masih berlangsungnya karhutla. Penanganan secara bersama-sama dinilai penting karena dampak kebakaran tidak berhenti pada kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat dan produktivitas.
“Ini kalau tidak kita tanggulangi bersama maka akan banyak hal yang merugikan baik dari sisi kesehatan maupun produktivitas pekerjaan,” ujarnya.
Ia menegaskan, PT Adaro Indonesia berharap kontribusi yang diberikan dapat membantu menekan dampak karhutla sekaligus meringankan beban petugas yang berada di garis depan penanganan kebakaran. “Karena itu melalui kontribusi ini kami berharap dampak dari karhutla bisa diminimalisasi,” katanya.
Ketut menambahkan, keterlibatan perusahaan ke depan tidak hanya diarahkan pada aspek pemadaman, tetapi juga pencegahan. Menurutnya, kondisi kekeringan merupakan fenomena yang secara berkala terjadi di Indonesia dengan tingkat keparahan yang berbeda-beda sehingga langkah antisipasi perlu diperkuat sejak dini.
Sementara itu Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengapresiasi dukungan yang diberikan PT Adaro Indonesia. Menurutnya, bantuan tersebut memiliki arti penting bagi keberlangsungan operasional Posko Gabungan Karhutla, terutama dalam mendukung kebutuhan personel yang terlibat dalam penanganan di lapangan.
“Kami di Posko sangat bersyukur atas bantuan-bantuan yang diberikan oleh perusahaan, termasuk PT Adaro Indonesia, karena itu sangat membantu untuk kegiatan operasional di sini,” katanya.
Ia berharap dukungan serupa dapat diikuti perusahaan lain yang beroperasi maupun menjalankan aktivitas usaha di Barito Timur. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi salah satu kunci menghadapi karhutla yang skalanya terus berkembang.
“Jadi kami berharap kedepannya perusahaan yang lain juga bisa mengalokasikan sedikit dari apa yang mereka miliki untuk membantu kami,” ujarnya.
Dukungan tersebut datang di tengah tingginya intensitas karhutla di Barito Timur. Berdasarkan dashboard SIPD BPBD Damkar Barito Timur yang dipantau Jumat, 11 September 2026, tercatat 422 kejadian karhutla dengan total luasan lahan terdampak mencapai 513,7 hektare.
Sebaran kejadian menunjukkan Paju Epat menjadi kecamatan dengan jumlah karhutla terbanyak, yakni 93 kejadian dengan luasan 108,2 hektare. Disusul Pematang Karau sebanyak 89 kejadian dengan luas terdampak 142,3 hektare, Karusen Janang 73 kejadian seluas 83,2 hektare, serta Dusun Timur 67 kejadian dengan luasan 57,7 hektare.
Pematang Karau tercatat sebagai wilayah dengan luasan lahan terdampak terbesar meski jumlah kejadiannya berada di urutan kedua. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa frekuensi kebakaran tidak selalu berbanding lurus dengan luasan lahan yang terdampak.
Dampak karhutla juga beririsan dengan persoalan kesehatan dan kebutuhan dasar masyarakat. Dashboard BPBD Damkar Barito Timur mencatat 195 kejadian wabah penyakit yang dipicu kualitas udara buruk dengan total 1.267 jiwa terdampak. Dalam data tersebut tidak tercatat korban jiwa akibat kejadian wabah penyakit.
Sementara itu, kebutuhan air bersih turut menjadi perhatian. Sebanyak 252 kepala keluarga (KK) tercatat menerima bantuan dengan total distribusi mencapai 12.000 liter air.
Kualitas udara juga berada pada level yang mengkhawatirkan. Data ISPU selama tujuh hari terakhir menunjukkan rata-rata indeks mencapai 304,2, yang dalam dashboard BPBD Damkar Barito Timur masuk kategori “Berbahaya”.
Dengan kondisi tersebut, penanganan karhutla membutuhkan respons terpadu yang tidak hanya mengandalkan pemerintah dan petugas pemadam, tetapi juga dukungan masyarakat serta dunia usaha. Penguatan sarana operasional seperti velbed, APD, pasokan air dan dukungan logistik menjadi bagian penting untuk memastikan personel tetap dapat menjalankan tugas di tengah situasi darurat yang belum sepenuhnya mereda. (A1)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar