Ancaman Karhutla di Tengah Krisis Air Meskipun Miliki Ribuan Sumur Bor
- calendar_month Selasa, 25 Agt 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Headline62, Palangka Raya – Pemerintah Provinsi Kalimantan Tengah saat ini kembali membangun sumur bor, untuk mendukung penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), karena kini terancam krisis air, sebab kondisi ribuan sumur bor yang telah dibangun sebelumnya justru belum diketahui secara pasti.
“Berdasarkan data yang ada saat ini di Kalimantan Tengah sedikitnya terdapat sekitar 3 ribu- 4 ribu sumur bor yang pernah dibangun oleh berbagai instansi di wilayah Kalteng, tetapi hingga kini belum dilakukan pengecekan menyeluruh, untuk memastikan berapa banyak sumur yang masih berfungsi, dan berapa yang sudah mengalami kerusakan,” tegas Kepala Dinas Kehutanan Kalteng, H Agustan Saining, di Palangka Raya, Selasa (25/8/2026).
Kondisi tersebut menjadi persoalan tersendiri, mengingat ketersediaan sumber air menjadi salah satu tantangan petugas dalam menghadapi karhutla. Sejumlah embung yang selama ini menjadi sumber air juga dilaporkan mengering.
Karena itu, Dinas Kehutanan Kalteng memilih membangun sejumlah sumur bor baru secara swadaya. Sedikitnya 10 titik telah dibangun di sejumlah wilayah rawan karhutla. Diantaranya Tumbang Nusa, kawasan Kamilo dan Kamilo Baru, serta Sampit.
“Karena di lapangan kesulitan air maupun embung-embung itu kering rata-rata. Makanya kita bangun sumur bor,” katanya.
10 sumur bor baru tersebut disebut telah berfungsi, dan dapat digunakan untuk membantu kebutuhan air dalam proses pemadaman karhutla.
Pembangunannya juga relatif murah.
Agustan memperkirakan, satu titik sumur bor membutuhkan anggaran sekitar Rp2,5 juta, dengan kedalaman pengeboran sekitar 25-30 meter.
Namun, persoalan utama kini bukan hanya menambah titik sumber air baru. Pemerintah juga perlu memastikan infrastruktur yang sudah dibangun sebelumnya benar-benar dapat dimanfaatkan.
Agustan mengatakan, sebagian sumur bor sebelumnya dibangun melalui program Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Setelah lembaga tersebut tidak lagi beroperasi, data mengenai lokasi dan kondisi sumur bor belum sepenuhnya diterima Dinas Kehutanan Kalteng.
“Itu kan tanggung jawab ada Badan Restorasi Gambut dan Mangrove. Tapi lembaga itu sudah bubar pada masa pemerintahan ini,” jelasnya.
Dinas Kehutanan kini berupaya mengumpulkan kembali data tersebut, untuk memetakan kondisi sumur bor yang telah ada. Sumur yang masih memungkinkan untuk diperbaiki akan diupayakan untuk kembali digunakan.
“Jadi kita meminta data-data mereka, nanti kita akan update, di mana yang bisa kita perbaiki atau kita gali ulang seperti itu,” katanya.
Kondisi ini menjadi perhatian, karena keberadaan sumur bor semestinya dapat menjadi salah satu infrastruktur penting dalam menghadapi karhutla, terutama ketika sumber air permukaan seperti embung mulai mengering.
Dengan jumlah sumur bor yang diperkirakan mencapai ribuan titik, pendataan dan pengecekan menjadi pekerjaan mendesak bagi pemerintah. Jangan sampai pembangunan sumber air baru terus dilakukan sementara infrastruktur lama yang seharusnya bisa membantu pemadaman justru tidak diketahui kondisinya.
Bagi Kalteng yang setiap tahun menghadapi ancaman karhutla, kepastian bahwa sumber air tersedia dan dapat berfungsi saat dibutuhkan menjadi sama pentingnya dengan penambahan titik sumur bor baru.(A1/*)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar