Awas…Kasus HIV Kalteng Tembus 176 Temuan Baru, P. Raya Tertinggi
- calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Awas…Kasus HIV Kalteng Tembus 176 Temuan Baru, P. Raya Tertinggi
Headline62, Palangka Raya – Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Kalteng menyebut pada tahun 2026 hingga periode pelaporan terakhir tercatat sebanyak 20.703 individu telah menjalani pemeriksaan HIV dari target 81.157 sasaran.
Dari hasil pemeriksaan tersebut ditemukan sebanyak 176 kasus HIV baru di seluruh wilayah Kalteng. Dari jumlah tersebut, sebanyak 120 orang dengan HIV (ODHIV) baru telah mendapatkan pengobatan Antiretroviral (ART).
Peningkatan kasus penularan HIV yang tercatat dipengaruhi oleh penyebaran kasus, tetapi juga karena sistem pencatatan dan pelaporan yang semakin baik sehingga mampu menemukan data berdasarkan individu yang melakukan tes, bukan lagi berdasarkan jumlah pemeriksaan yang dilakukan.
Kota Palangka Raya menjadi wilayah dengan jumlah penemuan kasus HIV baru tertinggi, yakni sebanyak 60 kasus. Selanjutnya disusul Kabupaten Kotawaringin Timur dengan 34 kasus, Kotawaringin Barat sebanyak 20 kasus, Barito Utara sebanyak 15 kasus, serta Kapuas sebanyak 10 kasus. Sementara wilayah lainnya mencatat jumlah temuan kasus yang lebih rendah, namun tetap menjadi perhatian dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV.
Dari sisi layanan pengobatan, capaian pemberian ART bagi ODHIV baru di Kalteng mencapai 68,18 persen. Pemerintah daerah terus mendorong agar seluruh masyarakat yang terdiagnosis HIV dapat segera mendapatkan pengobatan, sehingga kondisi kesehatan dapat terpantau dan risiko penularan dapat ditekan.
Data tersebut menunjukkan bahwa peningkatan penemuan kasus HIV tidak hanya menggambarkan adanya penularan di masyarakat, tetapi juga menunjukkan semakin luasnya akses pemeriksaan serta perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan HIV di Kalteng. Upaya deteksi dini, edukasi pencegahan, pengurangan stigma, serta perluasan layanan pengobatan terus diperkuat untuk mencapai pengendalian HIV yang lebih optimal.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kalteng dr. Riza Syahputra mengatakan, perkembangan sistem pelaporan menjadi salah satu faktor yang membuat angka penemuan kasus HIV semakin terlihat.
“Penemuan kasus HIV di Kalimantan Tengah setiap tahun semakin meningkat. Hal ini seiring dengan perbaikan sistem pencatatan dan pelaporan yang semakin berkembang, sehingga data yang diperoleh sudah berdasarkan individu yang melakukan tes, bukan lagi berdasarkan jumlah tes yang dilakukan,” ujar dr. Riza, di Palangka Raya, Senin (27/7/2026).
Berdasarkan data yang dihimpun Dinas Kesehatan Kalteng, wilayah dengan jumlah penemuan dan pelaporan kasus HIV tertinggi berada di Kota Palangka Raya. Kondisi tersebut menjadi perhatian pemerintah daerah untuk terus memperkuat upaya pencegahan, deteksi dini, hingga pengobatan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Riza menjelaskan, penyebaran HIV di Kalteng masih banyak dipengaruhi oleh perilaku seksual berisiko yang dilakukan tanpa pengamanan, termasuk rendahnya penggunaan kondom pada kelompok kunci.
“Penyebaran HIV cenderung dipengaruhi oleh perilaku seksual berisiko yang tidak aman. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah masih rendahnya penggunaan kondom pada kelompok kunci,” katanya.
Kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terhadap penularan HIV antara lain Lelaki Seks dengan Lelaki (LSL), waria atau transgender, Wanita Pekerja Seks (WPS), Pengguna Narkoba Suntik (Penasun), Pria Pekerja Seks (PPS), pasien Infeksi Menular Seksual (IMS), pasien tuberkulosis (TB), warga binaan pemasyarakatan atau narapidana, serta ibu hamil.
Untuk memperluas akses layanan, Dinas Kesehatan Kalteng terus melakukan penguatan fasilitas pelayanan kesehatan. Pemerintah menyediakan dan mendistribusikan alat pemeriksaan seperti rapid test HIV dan sifilis, obat Antiretroviral (ARV) maupun obat non-ARV, serta reagen Viral Load untuk mendukung pemantauan kondisi pasien.
Selain penyediaan sarana, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan juga terus dilakukan melalui berbagai kegiatan pelatihan, baik secara daring menggunakan media Zoom maupun secara tatap muka.
“Peningkatan kapasitas petugas terus dilakukan agar pelayanan HIV dan IMS dapat berjalan optimal. Pelatihan dilakukan melalui berbagai metode, baik secara daring maupun luring,” jelas Riza.
Saat ini, layanan tes HIV dan sifilis telah tersedia di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) pemerintah maupun swasta di Kalteng. Sementara untuk layanan pengobatan HIV telah tersedia di 81 fasilitas layanan yang tersebar di puskesmas, rumah sakit daerah, serta rumah sakit swasta.
Dinkes Kalteng juga menyoroti masih adanya tantangan dalam penanggulangan HIV, salah satunya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV (ODHIV), baik di lingkungan layanan kesehatan maupun di masyarakat.
Menurut Riza, stigma dan diskriminasi dapat menjadi hambatan bagi masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dan mendapatkan pengobatan sejak dini.
“Stigma dan diskriminasi masih menjadi tantangan dalam penanggulangan HIV, baik di layanan kesehatan maupun di luar layanan kesehatan. Hal ini perlu terus kita kurangi agar masyarakat tidak takut melakukan tes dan mendapatkan pengobatan,” ungkapnya.
Sebagai bagian dari upaya edukasi, Dinas Kesehatan Kalteng terus memperkuat kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) serta promosi kesehatan kepada masyarakat. Edukasi tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai HIV, AIDS, dan IMS, termasuk sumber serta cara penularannya.
“Dengan meningkatnya pengetahuan dan pemahaman masyarakat tentang HIV AIDS dan IMS, diharapkan stigma dan diskriminasi dapat menurun bahkan dihilangkan. Masyarakat juga diharapkan semakin sadar untuk melakukan pencegahan dan pemeriksaan secara dini,” pungkas Riza.(*)
- Penulis: Redaksi

Saat ini belum ada komentar