Dampak Kabut Asap Karhutla Barito Timur Kian Meluas, Sebabkan ISPA Tembus 1.488 Jiwa
- calendar_month Rabu, 16 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Headline62, Tamiang Layang – Dampak kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Barito Timur, semakin terasa pada sektor kesehatan masyarakat. Setidaknya berdasarkan data yang tercatat hingga Rabu, (16/9/2026), dari Dashboard BPBD Damkar Barito Timur terdapat 1.488 jiwa terdampak penyakit dalam 233 kejadian wabah penyakit di tengah terus berlangsungnya Karhutla.
Pada waktu yang sama, jumlah Karhutla di wilayah tersebut telah mencapai 485 kejadian dengan luas lahan terbakar 712,0 hektare. Data itu menunjukkan bahwa persoalan Karhutla tidak hanya menyangkut luasan lahan yang terbakar tetapi juga membawa dampak lanjutan terhadap masyarakat yang berada di sekitar wilayah terdampak asap.
Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Damkar Kabupaten Barito Timur, Parluhutan Tampubolon, mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan karena kualitas udara dapat memburuk ketika kebakaran terjadi secara berulang dan asap terkumpul di kawasan permukiman.
“Kita mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap dampak kabut asap, terutama terhadap kesehatan. Jika kondisi udara memburuk, masyarakat sebaiknya mengurangi aktivitas di luar rumah dan menggunakan masker ketika harus beraktivitas di luar,” ujarnya.
Data BPBD Damkar menunjukkan dampak penyakit tersebar di seluruh kecamatan. Dusun Timur mencatat jumlah warga terdampak tertinggi, yakni 458 jiwa, disusul Pematang Karau sebanyak 185 jiwa, Paju Epat 137 jiwa, Awang 117 jiwa, Patangkep Tutui 109 jiwa, Paku 108 jiwa, Benua Lima 101 jiwa, Dusun Tengah 96 jiwa, Karusen Janang 113 jiwa dan Raren Batuah 64 jiwa.
Sementara itu, dari sisi Karhutla, Paju Epat menjadi kecamatan dengan jumlah kejadian tertinggi sebanyak 102 kasus. Berikutnya Pematang Karau 95 kejadian dan Karusen Janang 92 kejadian. Dusun Timur tercatat 73 kejadian, Paku 39 kejadian, Raren Batuah 30 kejadian, Dusun Tengah 18 kejadian, Awang 16 kejadian, Patangkep Tutui 13 kejadian dan Benua Lima tujuh kejadian.
Dampak Karhutla juga terlihat dari kondisi kualitas udara. Dashboard mencatat ISPU tujuh hari terakhir berada pada angka 211,9 dengan kategori Sangat Tidak Sehat. Kondisi ini menjadi perhatian karena paparan asap dalam situasi kualitas udara yang buruk dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan, khususnya bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia dan masyarakat yang memiliki aktivitas tinggi di luar ruangan.
Parluhutan menambahkan bahwa penanganan Karhutla tidak dapat hanya mengandalkan upaya pemadaman setelah api muncul. Pencegahan dan kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting untuk menekan pertumbuhan titik kebakaran sekaligus mengurangi dampaknya terhadap lingkungan dan kesehatan.
“Kami terus melakukan penanganan dan mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan. Pencegahan dari awal sangat penting karena ketika api sudah meluas, penanganannya menjadi lebih sulit dan dampaknya juga semakin besar,” katanya.
Selain persoalan kesehatan dan kualitas udara, BPBD Damkar Barito Timur juga mencatat adanya kebutuhan air bersih. Hingga pembaruan data tersebut, distribusi air bersih telah menyasar 252 kepala keluarga dengan total 18.000 liter air. Rangkaian data tersebut memperlihatkan bahwa dampak musim Karhutla telah merambah berbagai aspek kehidupan masyarakat.
Dengan 485 kejadian Karhutla dan 712,0 hektare lahan terbakar, perhatian terhadap dampak kesehatan kini menjadi bagian penting dalam penanganan bencana di Barito Timur. Angka 1.488 jiwa terdampak penyakit menjadi salah satu indikator bahwa penanganan Karhutla perlu berjalan beriringan dengan perlindungan kesehatan masyarakat dan pengendalian paparan kabut asap. (A1)
- Penulis: Redaksi



Saat ini belum ada komentar