Darurat Kabut Asap, Remaja 17 Tahun di Taniran Barito Timur Meninggal akibat Gagal Napas Akut
- calendar_month Minggu, 20 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Headline62, Tamiang Layang – Kabar duka ditengah pekatnya kabut asap datang dari Kelurahan Taniran, Kecamatan Benua Lima, Kabupaten Barito Timur. Seorang remaja berusia 17 tahun, Ronan Giovinco, meninggal dunia setelah mengalami sesak napas dan didiagnosis mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) atau gagal napas akut.
Ronan meninggal dunia di RSUD Tamiang Layang pada Minggu (20/9/2026) dini hari. Peristiwa tersebut terjadi ketika kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) masih menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Barito Timur.
Kabar meninggalnya Ronan sempat dikaitkan masyarakat dengan kondisi kabut asap yang menyebabkan kualitas udara memburuk. Namun, Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Timur menegaskan bahwa berdasarkan diagnosis dokter RSUD Tamiang Layang, penyebab medis yang ditemukan adalah ARDS atau gagal napas akut.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Barito Timur, Jimmi WS Hutagalung, mengatakan korban sebelumnya sempat mengalami batuk dan pilek sekitar satu pekan sebelum kondisi kesehatannya memburuk. Keluhan tersebut kemudian disebut telah sembuh dan korban tidak memiliki riwayat asma.
“Kurang lebih satu minggu yang lalu ada batuk pilek, tetapi sudah sembuh dan tidak ada riwayat asma,” kata Jimmi, Minggu (20/9/2026).
Kondisi Memburuk dalam Hitungan Jam
Jimmi menjelaskan, pada Jumat (18/9/2026), Ronan mulai mengalami demam dan merasa tidak enak badan. Meski demikian, saat itu kondisinya masih memungkinkan untuk beraktivitas seperti biasa.
Korban juga sudah tidak mengalami batuk maupun pilek.
Sehari kemudian, Sabtu (19/9/2026), kondisi kesehatan Ronan mulai menurun. Ia mengeluhkan tubuhnya semakin lemas, tetapi belum sempat mendapatkan pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan.
Kondisinya kemudian memburuk pada Minggu dini hari. Sekitar pukul 02.00 WIB, Ronan mengalami sesak napas sehingga keluarganya segera membawanya ke IGD RSUD Tamiang Layang untuk mendapatkan pertolongan medis.
“Jam 02.00 dini hari mengeluh sesak napas, lalu dibawa ke IGD RSUD Tamiang Layang untuk mendapat pertolongan pertama,” ujar Jimmi.
Meski telah mendapatkan penanganan medis, nyawa Ronan tidak dapat diselamatkan. Ia dinyatakan meninggal dunia sekitar pukul 03.55 WIB.
Berdasarkan pemeriksaan dokter RSUD Tamiang Layang, Ronan mengalami Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS) atau gagal napas akut.
“ARDS itu gagal napas akut,” jelas Jimmi.
Kabut Asap Disebut Dapat Memperberat Gangguan Pernapasan
Jimmi mengatakan, korban tidak memiliki riwayat alergi maupun asma. Karena itu, ia mengingatkan agar penyebab kematian tidak disimpulkan secara terburu-buru hanya berdasarkan kondisi kabut asap yang sedang terjadi.
Menurutnya, gangguan pernapasan dapat dipengaruhi berbagai faktor. Dalam kondisi Karhutla dan kabut asap, paparan asap dapat memperburuk keluhan atau gangguan pada saluran pernapasan.
“Untuk gagal napas yang terjadi seperti pada korban meninggal ini bisa terjadi karena batuk berkepanjangan ditambah dengan kabut asap yang terjadi saat ini akibat Karhutla sehingga batuknya semakin menjadi-jadi dan berakibat gagal napas,” ungkapnya.
Meski demikian, Jimmi menegaskan pentingnya masyarakat segera mendapatkan pemeriksaan apabila mengalami gejala gangguan pernapasan.
Ia juga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga korban atas musibah tersebut.
Dinkes Imbau Warga Tak Abaikan Gejala Sesak Napas
Di tengah kondisi kabut asap akibat Karhutla, masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan, khususnya apabila mengalami batuk yang menetap, sesak napas, demam, lemas berlebihan atau keluhan lain yang berkaitan dengan sistem pernapasan.
Jimmi mengimbau masyarakat tidak menunda mendapatkan pertolongan medis apabila mengalami gejala tersebut.
“Kalau mengalami batuk atau gejala sesak napas, segera ke Puskesmas atau fasilitas kesehatan terdekat. Gunakan fasilitas ruang oksigen yang tersedia di Puskesmas,” imbaunya.
Menurutnya, pemeriksaan sedini mungkin penting untuk mengetahui kondisi kesehatan dan mencegah gangguan pernapasan berkembang menjadi keadaan yang lebih serius.
Selain segera mendapatkan pertolongan medis, masyarakat juga diminta mengurangi paparan asap. Warga yang harus beraktivitas di luar rumah dianjurkan menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar apabila tidak ada keperluan mendesak.
“Kedua, tolong pakai masker dan bila tidak perlu jangan keluar rumah,” tegasnya.
Meninggalnya Ronan menjadi perhatian di tengah kondisi Karhutla yang masih menyebabkan kabut asap di sejumlah wilayah Barito Timur. Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk tidak mengabaikan gejala gangguan pernapasan dan segera mengakses fasilitas kesehatan ketika kondisi mulai memburuk.
Kewaspadaan, penggunaan masker, mengurangi paparan asap serta pemeriksaan medis secara cepat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan masyarakat selama kondisi kualitas udara terganggu akibat kabut asap. (A1)
- Penulis: Redaksi



Saat ini belum ada komentar